Sekilas mengenai Rabies

Rabies merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di Provinsi Sulawesi Utara.

Rabies disebut juga penyakit anjing gila, merupakan suatu penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies (Lyssa virus).

Sampai saat ini belum ada pengobatan yang efektif dalam menyembuhkan rabies (jika sudah ada gejala klinis, akan meninggal), namun penyakit ini dapat dicegah melalui penanganan kasus paparan Hewan Penular Rabies (HPR) sedini mungkin.

Cara penularan rabies pada manusia adalah melalui gigitan, cakaran, dan jilatan (pada kulit terbuka atau mukosa / selaput lendir) oleh hewan yang terinfeksi virus rabies, dimana virus rabies  yang hidup di liur hewan penular rabies akan masuk ke tubuh manusia, dan berjalan melalui saraf menuju ke otak.

Di Indonesia, anjing merupakan HPR utama (98%), diikuti oleh kucing dan kera.

Masa inkubasi penyakit rabies pada manusia (selang waktu sejak virus masuk sampai timbul gejala) adalah bervariasi antara 2 minggu s/d 2 tahun, namun rata-rata umumnya antara 3-8 minggu. Gejala yang timbul adalah sebagai akibat virus sudah sampai ke otak dan menyebar melalui saraf.

Gejala pada manusia adalah demam, nyeri pada luka gigitan, takut air, takut angin, takut suara, air liur berlebihan, yang berujung ke kematian.

Pencegahan pada manusia adalah memberikan vaksinasi pada HPR ; dan juga dengan melakukan tatalaksana pada luka gigitan HPR dengan cara sebagai berikut :

  1. segera CUCI LUKA bekas gigitan HPR dengan AIR MENGALIR DAN SABUN SELAMA 10-15 MENIT lalu BERSIHKAN DENGAN ANTISEPTIK;
  2. segera LAPORKAN dan bawa ke puskesmas / RS / Rabies Center untuk mendapat pengobatan dan tatalaksana pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) sesuai kriteria;
  3. tangkap dan amankan HPR, rawat dengan baik, observasi selama 14 hari apakah sehat atau mati;
  4. periksa spesimen otak HPR yang mati dalam 14 hari paska menggigit ke laboratorium kesehatan hewan yang ditetapkan pemerintah.

Dosis pemberian VAR adalah 0,5 ml (verorab) atau 1 ml (rabipur), disuntikkan secara intramuskular di deltoid (pada dewasa dan anak) atau di paha anterolateral (pada bayi), dengan waktu pemberian pada hari ke-0 sebanyak 2 dosis, dilanjutkan hari ke-7 dan hari ke-21 masing-masing sebanyak 1 dosis (lihat flowchart).
Mengingat pentingnya pencegahan rabies, semua kontraindikasi adalah sekunder apabila terdapat kasus tersangka/kontaminasi dengan virus rabies.

Pengendalian Rabies tidak akan berjalan baik tanpa kerjasama semua pihak, terlebih kesadaran dan respons masyarakat untuk memberikan vaksinasi pada HPR peliharaannya, dan segera melakukan tatalaksana kasus gigitan HPR apabila terjadi luka gigitan/cakaran/jilatan oleh HPR.

dikutip dari Buku Saku Pengendalian Rabies di Indonesia, Dit.PPBB Ditjen PPPL Kemenkes RI, 2014

Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD)

 
Hand Foot and Mouth Disease, atau yang lebih dikenal dengan singkatan HFMD, penyakit yang lagi naik daun saat ini. Seperti apa HFMD itu? Berikut ulasan awamnya.
 

1      PENYEBAB

Terutama disebabkan oleh infeksi Enterovirus, termasuk didalamnya adalah polioviruses, coxsackieviruses, echoviruses, and enteroviruses. Penyebab tersering adalah Coxsackievirus A16 (CA16) dan Enterovirus 71 (EV71).
 

2      PENULARAN

HFMD sangat menular.
Penularan terjadi dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak dengan cairan/sekret hidung dan tenggorok (seperti liur, sputum, cairan hidung), baik kontak langsung ataupun lewat udara (melalui bersin atau batuk), dan juga dapat terjadi melalui kontak dengan cairan dari blister atau tinja penderita.
Penyakit ini tidak ditularkan dari hewan.
Negara dengan laporan peningkatan kasus HFMD adalah Tiongkok, Jepang, Hongkong, Korea, Malaysia, Singapura, Thailand, Taiwan, dan Vietnam.
 

3      GEJALA DAN TANDA

HFMD adalah penyakit infeksi virus yang umumnya menyerang anak berumur dibawah 10 tahun terutama bayi dan anak balita, walaupun kadang dapat terjadi pada orang dewasa.
Masa inkubasi adalah 3-7 hari.
Gejala yang muncul biasanya diawali dengan demam, kurang nafsu makan, sakit tenggorokan, dan malaise. Setelah itu akan muncul luka di mulut yang nyeri, awalnya bercak kemerahan yang kemudian berkembang menjadi ulkus.
Gejala lain yang timbul adalah munculnya bercak kemerahan (rash) dengan blister pada telapak tangan dan kaki penderita. Rash ini juga dapat muncul pada area lutut, siku, pantat, atau area genitalia penderita.
 
 

4      KOMPLIKASI

Penyakit ini biasanya sembuh sendiri dalam 7-10 hari walaupun tanpa pengobatan.
Komplikasi jarang terjadi. Kemungkinan komplikasi yang dapat muncul adalah dehidrasi, viral meningitis, ensefalitis, gangguan neurologis, dan lepasnya kuku tangan dan kaki yang reversible.
 

5      PENGOBATAN

Tidak ada pengobatan spesifik untuk penyakit ini. Pengobatan yang diberikan hanya simptomatis. Penderita disarankan untuk banyak minum air.
 

6      PENCEGAHAN

Tidak ada pencegahan khusus. Tidak ada vaksin untuk penyakit ini.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti cuci tangan pakai sabun (CTPS) dapat menurunkan risiko penularan. Hal lain yang dapat dilakukan adalah sering mencuci mainan anak.
 
 
Referensi :

  1. http://www.wpro.who.int/mediacentre/factsheets/fs_10072012_HFMD/en/
  2. http://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/about/index.html
  3. http://www.depkes.go.id/development/site/jkn/index.php?cid=1823&id=penyakit-tangan-kaki-mulut-(ptkm).html
  4. http://pppl.depkes.go.id/berita?id=1372

 
 

Sekilas tentang HIV

Apa sih HIV itu? Apa bedanya dengan AIDS?
Bagaimana sampai bisa tertular? Apa saya bisa tertular HIV?
Bagaimana bisa tahu kalau seseorang itu tertular HIV atau tidak?
Apakah bisa sembuh?
Begitulah kira-kira pertanyaan umum seputar HIV AIDS. Menjawab pertanyaan tersebut, berikut sekilas tentang HIV. Semoga dapat menambah pemahaman tentang HIV AIDS.
Read more